TAHLILAN DALAM KACA MATA ISLAM

on Selasa, 03 November 2009

Disusun oleh Redaksi Ahlussunnahmelayu.blogspot.com


Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al Qur'an dan mengutus Nabi Muhammad ﻢﻠﺴﻮﻪﻴﻠﻋﷲﺍﻰﻠﺼ sebagai penjelas dan pembimbing untuk memahami Al Qur'an tersebut sehingga menjadi petunjuk bagi umat manusia. Semoga Allah ﻰﻠﻌﺘﻭﷲﺍﻦﺎﺤﺒﺴ mencurahkan hidayah dan inayah-Nya kepada kita semua, sehingga dapat membuka mata hati kita untuk senantiasa menerima kebenaran hakiki.
Telah kita maklumi bersama bahwa acara tahlilan merupakan upacara ritual seremonial yang biasa dilakukan oleh keumuman masyarakat Indonesia untuk memperingati hari kematian. Secara bersama-sama, berkumpul sanak keluarga, handai taulan, beserta masyarakat sekitarnya, membaca beberapa ayat Al Qur'an, dzikir-dzikir, dan disertai do'a-do'a tertentu untuk dikirimkan kepada si mayit. Karena dari sekian materi bacaannya terdapat kalimat tahlil yang diulang-ulang (ratusan kali bahkan ada yang sampai ribuan kali), maka acara tersebut dikenal dengan istilah "Tahlilan".
Acara ini biasanya diselenggarakan setelah selesai proses penguburan (terkadang dilakukan sebelum penguburan mayit), kemudian terus berlangsung setiap hari sampai hari ketujuh. Lalu diselenggarakan kembali pada hari ke 40 dan ke 100. Untuk selanjutnya acara tersebut diadakan tiap tahun dari hari kematian si mayit, walaupun terkadang berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya.
Tidak lepas pula dalam acara tersebut penjamuan yang disajikan pada tiap kali acara diselenggarakan. Model penyajian hidangan biasanya selalu variatif, tergantung adat yang berjalan di tempat tersebut. Namun pada dasarnya menu hidangan "lebih dari sekedarnya" cenderung mirip menu hidangan yang berbau kemeriahan. Sehingga acara tersebut terkesan pesta kecil-kecilan, memang demikianlah kenyataannya.
Entah telah berapa abad lamanya acara tersebut diselenggarakan, hingga tanpa disadari menjadi suatu kelaziman. Konsekuensinya, bila ada yang tidak menyelenggarakan acara tersebut berarti telah menyalahi adat dan akibatnya ia diasingkan dari masyarakat. Bahkan lebih jauh lagi acara tersebut telah membangun opini muatan hukum yaitu sunnah (baca: "wajib") untuk dikerjakan dan sebaliknya, bid'ah (hal yang baru dan ajaib) apabila ditinggalkan.
Para pembaca, pembahasan kajian kali ini bukan dimaksudkan untuk menyerang mereka yang suka tahlilan, namun sebagai nasehat untuk kita bersama agar berpikir lebih jernih dan dewasa bahwa kita (umat Islam) memiliki pedoman baku yang telah diyakini keabsahannya yaitu Al Qur'an dan As Sunnah.
Sebenarnya acara tahlilan semacam ini telah lama menjadi pro dan kontra di kalangan umat Islam. Sebagai muslim sejati yang selalu mengedepankan kebenaran, semua pro dan kontra harus dikembalikan kepada Al Qur'an dan Sunnah Rasulullah. Sikap seperti inilah yang sepatutnya dimiliki oleh setiap insan muslim yang benar-benar beriman kepada Allahﻰﻠﻌﺘﻭﷲﺍﺎﺤﺒﺴ dan Rasul-Nya. Bukankah Allahﻰﻠﻌﺘﻭﷲﺍﻦﺎﺤﺒﺴ telah berfirman: "Maka jika kalian berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Ar Rasul (As Sunnah), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Yang demikian itu lebih utama bagi kalian dan lebih baik akibatnya." (An Nisaa': 59)

Historis Upacara Tahlilan
Para pembaca, kalau kita buka catatan sejarah Islam, maka acara ritual tahlilan tidak dijumpai di masa Rasulullah ﻢﻠﺴﻮﻪﻴﻠﻋﷲﺍﻰﻠﺼ , di masa para sahabatnya dan para Tabi'in maupun Tabi'ut tabi'in. Bahkan acara tersebut tidak dikenal pula oleh para Imam-Imam Ahlus Sunnah seperti Al Imam Malik, Abu Hanifah, Asy Syafi'i, Ahmad, dan ulama lainnya yang semasa dengan mereka ataupun sesudah mereka. Lalu dari mana sejarah munculnya acara tahlilan?
Awal mula acara tersebut berasal dari upacara peribadatan (baca: selamatan) nenek moyang bangsa Indonesia yang mayoritasnya beragama Hindu dan Budha. Upacara tersebut sebagai bentuk penghormatan dan mendo'akan orang yang telah meninggalkan dunia yang diselenggarakan pada waktu seperti halnya waktu tahlilan. Namun acara tahlilan secara praktis di lapangan berbeda dengan prosesi selamatan agama lain yaitu dengan cara mengganti dzikir-dzikir dan do'a-do'a ala agama lain dengan bacaan dari Al Qur'an, maupun dzikir-dzikir dan do'a-do'a ala Islam menurut mereka.
Dari aspek historis ini kita bisa mengetahui bahwa sebenarnya acara tahlilan merupakan adopsi (pengambilan) dan sinkretisasi (pembauran) dengan agama lain.

Tahlilan Dalam Kaca Mata Islam
Acara tahlilan -paling tidak- terfokus pada dua acara yang paling penting yaitu:
Pertama: Pembacaan beberapa ayat/ surat Al Qur'an, dzikir-dzikir dan disertai dengan do'a-do'a tertentu yang ditujukan dan dihadiahkan kepada si mayit.
Kedua: Penyajian hidangan makanan.
Dua hal di atas perlu ditinjau kembali dalam kaca mata Islam, walaupun secara historis acara tahlilan bukan berasal dari ajaran Islam.
Pada dasarnya, pihak yang membolehkan acara tahlilan, mereka tiada memiliki argumentasi (dalih) melainkan satu dalih saja yaitu istihsan (menganggap baiknya suatu amalan) dengan dalil-dalil yang umum sifatnya. Mereka berdalil dengan keumuman ayat atau hadits yang menganjurkan untuk membaca Al Qur'an, berdzikir ataupun berdoa dan menganjurkan pula untuk memuliakan tamu dengan menyajikan hidangan dengan niatan shadaqah.

1. Bacaan Al Qur'an, dzikir-dzikir, dan do'a-do'a yang ditujukan/ dihadiahkan kepada si mayit.
Memang benar Allahﻰﻠﻌﺘﻭﷲﺍﻦﺎﺤﺒﺴdan Rasul-Nya menganjurkan untuk membaca Al Qur'an, berdzikir dan berdoa. Namun apakah pelaksanaan membaca Al Qur'an, dzikir-dzikir, dan do'a-do'a diatur sesuai kehendak pribadi dengan menentukan cara, waktu dan jumlah tertentu (yang diistilahkan dengan acara tahlilan) tanpa merujuk praktek dari Rasulullahﻢﻠﺴﻮﻪﻴﻠﻋﷲﺍﻰﻠﺼ dan para sahabatnya bisa dibenarakan?
Kesempurnaan agama Islam merupakan kesepakatan umat Islam semuanya, karena memang telah dinyatakan oleh Allah dan Rasul-Nya. Allahﻰﻠﻌﺘﻭﷲﺍﺎﺤﺒﺴ berfirman: "Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama Islam bagi kalian, dan telah Aku sempurnakan nikmat-Ku atas kalian serta Aku ridha Islam menjadi agama kalian." (Al Maidah: 3)
Juga Rasulullahﻢﻠﺴﻮﻪﻴﻠﻋﷲﺍﻰﻠﺼ bersabda:
مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلاَّ قَدْ بُيِّنَ لَكُمْ

"Tidak ada suatu perkara yang dapat mendekatkan kepada Al Jannah (surga) dan menjauhkan dari An Naar (neraka) kecuali telah dijelaskan kepada kalian semuanya." (H.R Ath Thabrani)
Ayat dan hadits di atas menjelaskan suatu landasan yang agung yaitu bahwa Islam telah sempurna, tidak butuh ditambah dan dikurangi lagi. Tidak ada suatu ibadah, baik perkataan maupun perbuatan melainkan semuanya telah dijelaskan oleh Rasulullahﻢﻠﺴﻮﻪﻴﻠﻋﷲﺍﻰﻠﺼ.
Suatu ketika Rasulullahﻢﻠﺴﻮﻪﻴﻠﻋﷲﺍﻰﻠﺼ mendengar berita tentang pernyataan tiga orang, yang pertama menyatakan: "Saya akan shalat tahajjud dan tidak akan tidur malam", yang kedua menyatakan: "Saya akan bershaum (puasa) dan tidak akan berbuka", yang terakhir menyatakan: "Saya tidak akan menikah", maka Rasulullah menegur mereka, seraya berkata: "Apa urusan mereka dengan menyatakan seperti itu? Padahal saya bershaum dan saya pun berbuka, saya shalat dan saya pula tidur, dan saya menikahi wanita. Barang siapa yang membenci sunnahku maka bukanlah golonganku." (HR. Muttafaqun alaihi)
Para pembaca, ibadah menurut kaidah Islam tidak akan diterima oleh Allah kecuali bila memenuhi dua syarat yaitu ikhlas kepada Allahﻰﻠﻌﺘﻭﷲﺍﻦﺎﺤﺒﺴ dan mengikuti petunjuk Rasulullah . Allah menyatakan dalam Al Qur'an (artinya): "Dialah Allah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji siapa diantara kalian yang paling baik amalnya." (QS.Al Mulk: 2)
Para ulama ahli tafsir menjelaskan makna "yang paling baik amalnya" ialah yang paling ikhlash dan yang paling mencocoki sunnah Rasulullahﻢﻠﺴﻮﻪﻴﻠﻋﷲﺍﻰﻠﺼ .
Tidak ada seorang pun yang menyatakan shalat itu jelek atau shaum (puasa) itu jelek, bahkan keduanya merupakan ibadah mulia bila dikerjakan sesuai tuntunan sunnah Rasulullah. Atas dasar ini, beramal dengan dalih niat baik (istihsan) semata -seperti peristiwa tiga orang didalam hadits tersebut- tanpa mencocoki sunnah Rasulullahﻢﻠﺴﻮﻪﻴﻠﻋﷲﺍﻰﻠﺼ , maka amalan tersebut tertolak. Simaklah firman Allah (artinya): "Maukah Kami beritahukan kepada kalian tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya". (Al Kahfi: 103-104)
Lebih ditegaskan lagi dalam hadits 'Aisyah Radliallahu ‘anha., Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
"Barang siapa yang beramal bukan diatas petunjuk kami, maka amalan tersebut tertolak." (HR. Muttafaqun alaihi, dari lafazh Muslim)
Atas dasar ini pula lahirlah sebuah kaidah Ushul Fiqh yang berbunyi:

فَالأَصْلُ فَي الْعِبَادَاتِ البُطْلاَنُ حَتَّى يَقُوْمَ دَلِيْلٌ عَلَى الأَمْرِ
"Hukum asal dari suatu ibadah adalah batal, hingga terdapat dalil (argumen) yang memerintahkannya."
Maka beribadah dengan dalil istihsan semata tidaklah dibenarkan dalam agama. Karena tidaklah suatu perkara itu teranggap baik melainkan bila Allah dan Rasul-Nya menganggapnya baik dan tidaklah suatu perkara itu teranggap jelek melainkan bila Allah dan Rasul-Nya menganggapnya jelek. Lebih menukil lagi pernyataan dari Al Imam Asy Syafi'I:
مَنِ اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَعَ
"Barang siapa yang menganggap baik suatu amalan (padahal tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah -pent) berarti dirinya telah menciptakan hukum syara' (syari'at) sendiri".
Kalau kita mau mengkaji lebih dalam madzhab Al Imam Asy Syafi'i tentang hukum bacaan Al Qur'an yang dihadiahkan kepada si mayit, beliau diantara ulama yang menyatakan bahwa pahala bacaan Al Qur'an tidak akan sampai kepada si mayit. Beliau berdalil dengan firman Allah (artinya): "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh (pahala) selain apa yang telah diusahakannya". (An Najm: 39), (Lihat tafsir Ibnu Katsir 4/329).

2. Penyajian hidangan makanan.
Memang secara sepintas pula, penyajian hidangan untuk para tamu merupakan perkara yang terpuji bahkan dianjurkan sekali didalam agama Islam. Namun manakala penyajian hidangan tersebut dilakukan oleh keluarga si mayit baik untuk sajian tamu undangan tahlilan ataupun yang lainnya, maka memiliki hukum tersendiri. Bukan hanya saja tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullahﻢﻠﺴﻮﻪﻴﻠﻋﷲﺍﻰﻠﺼ bahkan perbuatan ini telah melanggar sunnah para sahabatnya Radliallahu ‘anhum. Jarir bin Abdillah Radliallahu ‘anhu-salah seorang sahabat Rasulullah - berkata: "Kami menganggap/ memandang kegiatan berkumpul di rumah keluarga mayit, serta penghidangan makanan oleh keluarga mayit merupakan bagian dari niyahah (meratapi mayit)." (H.R Ahmad, Ibnu Majah dan lainnya)
Sanad Hadits ini shahih dan rawi-rawinya semuanya tsiqat ( dapat dipercaya ) atas syarat Bukhari dan Muslim, bahkan telah di shahihkan oleh jama'ah para ulama' Mari kita perhatikan ijma'/kesepakatan tentang hadits tersebut diatas sebagai berikut:
- Mereka ijma' atas keshahihan hadits tersebut dan tidak ada seorang pun ulama' ( sepanjang yang diketahui penulis- Wallahua'lam ) yang mendhaifkan hadits tersebut.
- Mereka ijma' dalam menerima hadits atau atsar dari ijma' para shahabat yang diterangkan oleh Jarir bin Abdullah. Yakni tidak ada seorang pun ulama' yang menolak atsar ini.
- Mereka ijma' dalam mengamalkan hadits atau atsar diatas. Mereka dari zaman shahabat sampai zaman kita sekarang ini senantiasa melarang dan mengharamkan apa yang telah di ijma'kan oleh para shahabat yaitu berkumpul-kumpul ditempat atau rumah ahli mayit yang biasa kita kenal di negeri kita ini dengan nama " Tahlillan atau Selamatan Kematian
Perlu diketahui bahwa acara berkumpul di rumah keluarga mayit dan penjamuan hidangan dari keluarga mayit termasuk perbuatan yang dilarang oleh agama menurut pendapat para sahabat Rasulullah dan para ulama salaf. Lihatlah bagaimana fatwa salah seorang ulama salaf yaitu Al Imam Asy Syafi'i dalam masalah ini. Kami sengaja menukilkan madzhab Al Imam Asy Syafi'i, karena mayoritas kaum muslimin di Indonesia mengaku bermadzhab Syafi'iyyah. Al Imam Asy Syafi'i rahimahullah berkata dalam salah satu kitabnya yang terkenal yaitu 'Al Um' (1/248): "Aku membenci acara berkumpulnya orang (di rumah keluarga mayit -pent) meskipun tidak disertai dengan tangisan. Karena hal itu akan menambah kesedihan dan memberatkan urusan mereka." (Lihat Ahkamul Jana-iz karya Asy Syaikh Al Albani hal. 211)
Al Imam An Nawawi seorang imam besar dari madzhab Asy Syafi'i setelah menyebutkan perkataan Asy Syafi'i diatas didalam kitabnya Majmu' Syarh Al Muhadzdzab 5/279 berkata: "Ini adalah lafadz baliau dalam kitab Al Um, dan inilah yang diikuti oleh murid-murid beliau. Adapun pengarang kitab Al Muhadzdzab (Asy Syirazi) dan lainnya berargumentasi dengan argumen lain yaitu bahwa perbuatan tersebut merupakan perkara yang diada-adakan dalam agama (bid'ah -pent). Lalu apakah pantas acara tahlilan tersebut dinisbahkan kepada madzhab Al Imam Asy Syafi'i?
Malah yang semestinya, disunnahkan bagi tetangga keluarga mayit yang menghidangkan makanan untuk keluarga mayit, supaya meringankan beban yang mereka alami. Sebagaimana bimbingan Rasulullah ﻢﻠﺴﻮﻪﻴﻠﻋﷲﺍﻰﻠﺼ dalam hadistnya:

اصْنَعُوا لآلِ جَعْفَرَ طَعَامًا فَقَدْ أَتَاهُمْ أَمْرٌ يُشْغِلُهُمْ
"Hidangkanlah makanan buat keluarga Ja'far, Karena telah datang perkara (kematian-pent) yang menyibukkan mereka." {Hadits Shahih, riwayat Imam Asy Syafi'I ( I/317), Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad (I/205)}

Hukum Mengadakan Tahlilan (Selamatan Kematian)
Mari kita simak dan perhatikan perkataan Ulama' ahlul Ilmi mengenai masalah ini:
- Perkataan Al Imam Asy Syafi'I, yakni seorang imamnya para ulama', mujtahid mutlak, lautan ilmu, pembela sunnah dan yang khususnya di Indonesia ini banyak yang mengaku bermadzhab beliau, telah berkata dalam kitabnya Al Umm (I/318) : " Aku benci al ma'tam yaitu berkumpul-kumpul dirumah ahli mayit meskipun tidak ada tangisan, karena sesungguhnya yang demikian itu akan memperbaharui kesedihan ." Ini yang biasa terjadi dan Imam Syafi'I menerangkan menurut kebiasaan yaitu akan memperbaharui kesedihan. Ini tidak berarti kalau tidak sedih boleh dilakukan. Sama sekali tidak ! Perkataan Imam Syafi'I diatas tidak menerima pemahaman terbalik atau mafhum mukhalafah. Perkataan imam kita diatas jelas sekali yang tidak bisa dita'wil atau ditafsirkan kepada arti dan makna lain kecuali bahwa : " beliau dengan tegas Mengharamkan berkumpul-kumpul dirumah keluarga/ahli mayit. Ini baru berkumpul saja, bagaimana kalau disertai dengan apa yang kita namakan disini sebagai Tahlilan ?"

- Perkataan Al Imam Ibnu Qudamah, dikitabnya Al Mughni ( Juz 3 halaman 496-497 cetakan baru ditahqiq oleh Syaikh Abdullah bin Abdul Muhsin At Turki ) : " Adapun ahli mayit membuatkan makanan untuk orang banyak maka itu satu hal yang dibenci ( haram ). Karena akan menambah ( kesusahan ) diatas musibah mereka dan menyibukkan mereka diatas kesibukan mereka dan menyerupai perbuatan orang-orang jahiliyyah. Dan telah diriwayatkan bahwasannya Jarir pernah bertamu kepada Umar. Lalu Umar bertanya, " Apakah mayit kamu diratapi ?" Jawab Jarir, " Tidak !" Umar bertanya lagi, " Apakah mereka berkumpul di rumah ahli mayit dan mereka membuat makanan ? Jawab Jarir, " Ya !" Berkata Umar, " Itulah ratapan !"

- Perkataan Syaikh Ahmad Abdurrahman Al Banna, dikitabnya Fathurrabbani Tartib Musnad Imam Ahmad bin Hambal ( 8/95-96) : " Telah sepakat imam yang empat ( Abu Hanifah, Malik, Syafi'I dan Ahmad) atas tidak disukainya ahli mayit membuat makanan untuk orang banyak yang mana mereka berkumpul disitu berdalil dengan hadits Jarir bin Abdullah.
Dan zhahirnya adalah HARAM karena meratapi mayit hukumnya haram, sedangkan para Shahabat telah memasukkannya ( yakni berkumpul-kumpul dirumah ahli mayit ) bagian dari meratap dan dia itu (jelas) haram. Dan diantara faedah hadits Jarir ialah tidak diperbolehkannya berkumpul-kumpul dirumah ahli mayit dengan alas an ta'ziyah /melayat sebagaimana dikerjakan orang sekarang ini. Telah berkata An Nawawi rahimahullah, 'Adapun duduk-duduk (dirumah ahli mayit ) dengan alasan untuk Ta'ziyah telah dijelaskan oleh Imam Syafi'I dan pengarang kitab Al Muhadzdzab dan kawan-kawan semadzhab atas dibencinya ( perbuatan tersebut ).' Kemudian Nawawi menjelaskan lagi, " Telah berkata pengarang kitab Al Muhadzdzab : Dibenci duduk-duduk ( ditempat ahli mayit ) dengan alasan untuk Ta'ziyah. Karena sesungguhnya yang demikian itu adalah muhdats ( hal yang baru yang tidak ada keterangan dari Agama), sedang muhdats adalah " Bid'ah."

- Perkataan Al Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i, dikitabnya Al Majmu' Syarah Muhadzdzab (5/319-320) telah menjelaskan tentang Bid'ahnya berkumpul-kumpul dan makan-makan dirumah ahli mayit dengan membawakan perkataan penulis kitab Asy Syaamil dan ulama lainnya dan beliau menyetujuinya berdalil dengan hadits Jarir yang beliau tegaskan sanadnya shahih.

- Perkataan Al Imam Asy Syairazi, dikitabnya Muhadzdzab yang kemudian disyarahkan oleh Imam Nawawi dengan nama Al Majmu' Syarah Muhadzdzab : " Tidak disukai /dibenci duduk-duduk ( ditempat ahli mayit ) dengan alasan untuk Ta'ziyah karena sesungguhnya yang demikian itu muhdats sedangkan muhdats adalah " Bid'ah ".

- Perkataan Al Imam Ibnul Humam Al Hanafi (dan para ulama’ dari mahdzab hanafiyyah-pen.), dikitabnya Fathul Qadir (2/142) dengan tegas dan terang menyatakan bahwa perbuatan tersebut adalah " Bid'ah yang jelek ". Beliau berdalil dengan hadits Jarir yang beliau katakana shahih.

- Perkataan Al Imam Ibnul Qayyim, dikitabnya Zaadul Ma'aad (I/527-528) menegaskan bahwa berkumpul-kumpul ( dirumah ahli mayit ) dengan alasan untuk ta'ziyah dan membacakan Qur'an untuk mayit adalah " Bid'ah " yang tidak ada petunjuknya dari Nabi Shollallahu’alaihi wasallam.

- Perkataan Al Imam Asy Syaukani, dikitabnya Nailul Authar (4/148) menegaskan bahwa hal tersebut menyalahi sunnah. - Perkataan Al Imam Ahmad bin Hambal, ketika ditanya tentang masalah ini beliau menjawab: " Dibuatkan makanan untuk mereka (ahli mayit ) dan tidaklah mereka (ahli mayit) membuatkan makanan untuk para penta'ziyah." (Masaa-il Imam Ahmad bin Hambal oleh Imam Abu Dawud hal. 139)

- Perkataan Syaikhul Islam Ahmad Ibnu Taimiyyah al-Hambali, " Disukai membuatkan makanan untuk ahli mayit dan mengirimnya kepada mereka. Akan tetapi tidak disukai mereka membuat makanan untuk para penta'ziyah. Demikian menurut madzhab Ahmad bin Hambal dan lain-lain." (Al Ikhtiyaaraat Fiqhiyyah hal. 93 ).

- Perkataan Al Imam Al Ghazali, dikitabnya Al Wajiz Fighi Al Imam Asy Syafi'I ( I/79), " Disukai membuatkan makanan untuk ahli mayit."

Koreksi Derajat Hadits Fadhilah Surat Yasin
Sebelum melanjutkan pembahasan, yang perlu dicamkan dan diingat dari tulisan ini, adalah dengan membahas masalah ini bukan berarti penulis melarang atau mengharamkan membaca surat Yasin. Sebagaimana surat-surat Al-Qur'an yang lain, surat Yasin juga harus kita baca. Akan tetapi di sini penulis hanya ingin menjelaskan kesalahan mereka yang menyandarkan tentang fadhilah dan keutamaan surat Yasin kepada Nabi ﻢﻠﺴﻮﻪﻴﻠﻋﷲﺍﻰﻠﺼ.
Selain itu, untuk menegaskan bahwa tidak ada tauladan dari Nabi ﻢﻠﺴﻮﻪﻴﻠﻋﷲﺍﻰﻠﺼ membaca surat Yasin setiap malam Jum'at, setiap memulai atau menutup majlis ilmu, ketika dan setelah kematian dan lain-lain.
Kebanyakan umat Islam membaca surat Yasin karena -sebagaimana dikemukakan di atas- fadhilah dan ganjaran yang disediakan bagi orang yang membacanya. Tetapi, setelah dilakukan kajian dan penelitian tentang hadits-hadits yang menerangkan fadhilah surat Yasin, penulis dapati Semuanya Adalah Lemah.
Perlu ditegaskan di sini, jika telah tegak hujjah dan dalil maka kita tidak boleh berdusta atas nama Nabi Muhammad ﻢﻠﺴﻮﻪﻴﻠﻋﷲﺍﻰﻠﺼ sebab ancamannya adalah Neraka. (Hadits Riwayat Bukhari, Muslim, Ahmad dan lainnya).
Adapun hadits-hadits yang semuanya dha'if (lemah) dan atau maudhu' (palsu) yang dijadikan dasar tentang fadhilah surat Yasin diantaranya adalah sebagai berikut :
1. "Artinya : Siapa yang membaca surat Yasin dalam suatu malam, maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya dan siapa yang membaca surat Ad-Dukhan pada malam Jum'at maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya" (Ibnul Jauzi, Al-Maudhu'at, 1/247).
Keterangan : Hadits ini Palsu.
Ibnul Jauzi mengatakan, hadits ini dari semua jalannya adalah batil, tidak ada asalnya. Imam Daruquthni berkata : Muhammad bin Zakaria yang ada dalam sanad hadits ini adalah tukang memalsukan hadits. (Periksa : Al-Maudhu'at, Ibnul Jauzi, I/246-247, Mizanul I'tidal III/549, Lisanul Mizan V/168, Al-Fawaidul Majmua'ah hal. 268 No. 944).
2. "Artinya : Siapa yang membaca surat Yasin pada malam hari karena mencari keridhaan Allah, niscaya Allah mengampuni dosanya".
Keterangan : Hadits ini Lemah.
Diriwayatkan oleh Thabrani dalam kitabnya Mu'jamul Ausath dan As-Shaghir dari Abu Hurairah, tetapi dalam sanadnya ada rawi Aghlab bin Tamim. Kata Imam Bukhari, ia munkarul hadits. Kata Ibnu Ma'in, ia tidak ada apa-apanya (tidak kuat). (Periksa : Mizanul I'tidal I:273-274 dan Lisanul Mizan I : 464-465).
3. "Artinya : Siapa yang terus menerus membaca surat Yasin pada setiap malam, kemudian ia mati maka ia mati syahid".
Keterangan : Hadits ini Palsu.
Hadits ini diriwayatkan oleh Thabrani dalam Mu'jam Shaghir dari Anas, tetapi dalam sanadnya ada Sa'id bin Musa Al-Azdy, ia seorang pendusta dan dituduh oleh Ibnu Hibban sering memalsukan hadits. (Periksa : Tuhfatudz Dzakirin, hal. 340, Mizanul I'tidal II : 159-160, Lisanul Mizan III : 44-45).
4. "Artinya : Siapa yang membaca surat Yasin pada permulaan siang (pagi hari) maka akan diluluskan semua hajatnya".
Keterangan : Hadits ini Lemah.
Ia diriwayatkan oleh Ad-Darimi dari jalur Al-Walid bin Syuja'. Atha' bin Abi Rabah, pembawa hadits ini tidak pernah bertemu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Sebab ia lahir sekitar tahun 24H dan wafat tahun 114H. (Periksa : Sunan Ad-Darimi 2:457, Misykatul Mashabih, takhrij No. 2177, Mizanul I'tidal III:70 dan Taqribut Tahdzib II:22).
5. "Artinya : Siapa yang membaca surat Yasin satu kali, seolah-olah ia membaca Al-Qur'an dua kali". (Hadits Riwayat Baihaqi dalam Syu'abul Iman).
Keterangan : Hadits ini Palsu. (Lihat Dha'if Jamiush Shaghir, No. 5801 oleh Imam Al-Albani).
6. "Artinya : Siapa yang membaca surat Yasin satu kali, seolah-olah ia membaca Al-Qur'an sepuluh kali". (Hadits Riwayat Baihaqi dalam Syu'abul Iman).
Keterangan : Hadits ini Palsu.
(Lihat Dha'if Jami'ush Shagir, No. 5798 oleh Imam Al-Albani).
7. "Artinya : Sesungguhnya tiap-tiap sesuatu mempunyai hati dan hati (inti) Al-Qur'an itu ialah surat Yasin. Siapa yang membacanya maka Allah akan memberikan pahala bagi bacaannya itu seperti pahala membaca Al-Qur'an sepuluh kali".
Keterangan : Hadits ini Palsu.
Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (No. 3048) dan Ad-Darimi 2:456. Di dalamnya terdapat Muqatil bin Sulaiman. Ayah Ibnu Abi Hatim berkata : Aku mendapati hadits ini di awal kitab yang di susun oleh Muqatil bin Sulaiman. Dan ini adalah hadits batil, tidak ada asalnya. (Periksa : Silsilah Hadits Dha'if No. 169, hal. 202-203) Imam Waqi' berkata : Ia adalah tukang dusta. Kata Imam Nasa'i : Muqatil bin Sulaiman sering dusta.
(Periksa : Mizanul I'tidal IV:173).
8. "Artinya : Siapa yang membaca surat Yasin di pagi hari maka akan dimudahkan (untuknya) urusan hari itu sampai sore. Dan siapa yang membacanya di awal malam (sore hari) maka akan dimudahkan urusannya malam itu sampai pagi".
Keterangan : Hadits ini Lemah.
Hadits ini diriwayatkan Ad-Darimi 2:457 dari jalur Amr bin Zararah. Dalam sanad hadits ini terdapat Syahr bin Hausyab. Kata Ibnu Hajar : Ia banyak memursalkan hadits dan banyak keliru. (Periksa : Taqrib I:355, Mizanul I'tidal II:283).
9. "Artinya : Bacakanlah surat Yasin kepada orang yang akan mati di antara kamu".
Keterangan : Hadits ini Lemah.
Diantara yang meriwayatkan hadits ini adalah Ibnu Abi Syaibah (4:74 cet. India), Abu Daud No. 3121. Hadits ini lemah karena Abu Utsman, di antara perawi hadits ini adalah seorang yang majhul (tidak diketahui), demikian pula dengan ayahnya. Hadits ini juga mudtharib (goncang sanadnya/tidak jelas).
10. "Artinya : Tidak seorang pun akan mati, lalu dibacakan Yasin di sisinya (maksudnya sedang naza') melainkan Allah akan memudahkan (kematian itu) atasnya".
Keterangan : Hadits ini Palsu.
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam kitab Akhbaru Ashbahan I :188. Dalam sanad hadits ini terdapat Marwan bin Salim Al Jazari. Imam Ahmad dan Nasa'i berkata, ia tidak bisa dipercaya. Imam Bukhari, Muslim dan Abu Hatim berkata, ia munkarul hadits. Kata Abu 'Arubah Al Harrani, ia sering memalsukan hadits. (Periksa : Mizanul I'tidal IV : 90-91).
11. “Artinya: Ada 2 laki-laki beriman dan munafik sama-sama difitnah (dalam kubur). Adapun yang mukmin difitnah sampai 7 hari dan yang munafik difitnah sampai 40 hari. (Dari Ubaid bin Amir / Al-Hawi Lil fatawaa/Imam Suyuthi Juz.II hal 178)
Keterangan: Hadits ini Sangat Lemah (Dhoifun Jiddan)
Imam Syafi’I menolak keras hadits ini sebagai hujjah/dalil, dengan alasan sanad hadits hanya shahih sampai peringkat tabi’in yaitu Ubaid bin Amir bukan shahabat tapi Tabi’in, demikian penilitian Imam Syafi’I rahimahullah (Al Hawii Lil Faatawaa, Juz II hal 183)

12. “ Artinya: Bacalah untuk para mayitmu surat Yasin”
Keterangan: Hadits ini Dhaif (Lemah)
Ibnu Qaththan, setelah melalui penelitian dengan cermat, hadits itu mudhtharib (kacau), mauquf (tidak sampai isnahnya kepada Nabi), majhul (tidak diketahui). Imam ad-Daruqutni mengatakan, hadits itu mudhtharib isnadnya (para perawinya kacau, tidak jelas), majhul matannya (kandungan maknanya tidak diketahui) dan tidak shahih(hadits lemah/dhaif) (Minhaj al-firqah an-najiyah, Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu)
13. “Artinya: Barangsiapa yang mendatangi kuburan lalu membaca surat Yasin. Niscaya Alloh akan meringankan adzab terhadap mereka pada waktu dan akan menjadikan dengan bilangan hurufnya kebaikan.”
Keterangan: Hadits ini Palsu (Maudhu’) lihat as Silsilah adh-Dho’ifah: 3/397 (1246)

14. “Artinya: “Barangsiapa yang melewati kuburan maka ia membaca surat al-Ikhlas sebelas kali…”
Keterangan: Hadits ini Palsu (Maudhu’) lihat as Silsilah adh-Dho’ifah: 3/452 (1290)


Penjelasan:
Abdullah bin Mubarak berkata : Aku berat sangka bahwa orang-orang zindiq (yang pura-pura Islam) itulah yang telah membuat riwayat-riwayat itu (hadits-hadits tentang fadhilah surat-surat tertentu). Dan Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata : Semua hadits yang mengatakan, barangsiapa membaca surat ini akan diberikan ganjaran begini dan begitu SEMUA HADITS TENTANG ITU ADALAH PALSU. Sesungguhnya orang-orang yang memalsukan hadits-hadits itu telah mengakuinya sendiri. Mereka berkata, tujuan kami membuat hadits-hadits palsu adalah agar manusia sibuk dengan (membaca surat-surat tertentu dari Al-Qur'an) dan menjauhkan mereka dari isi Al-Qur'an yang lain, juga kitab-kitab selain Al-Qur'an. (Periksa : Al-Manarul Munffish Shahih Wadh-Dha'if, hal. 113-115).

Dengan demikian jelaslah bahwa hadit-hadits tentang fadhilah dan keutamaan surat Yasin, semuanya LEMAH dan PALSU. Oleh karena itu, hadits-hadits tersebut tidak dapat dijadikan hujjah untuk menyatakan keutamaan surat ini dan surat-surat yang lain, dan tidak bisa pula untuk menetapkan ganjaran atau penghapusan dosa bagi mereka yang membaca surat ini. Memang ada hadits-hadits shahih tentang keutamaan surat Al-Qur'an selain surat Yasin, tetapi tidak menyebut soal pahala. Wallahu a’lam
Setelah kita mengetahui permasalahannya dengan jelas wajib bagi seorang mukmin yang taat untuk rujuk (kembali) kepada Al-Haq (Kitabullah dan As-Sunnah sesuai pemahaman Salafussholih). Seperti kita lihat bahwa amalan tahlilan yang sering dikerjakan oleh kebanyakan kaum muslimin tidak ada contohnya dari Nabi Shallahu ‘Alahi Wasallam, para shahabat, tabi’in , athbaut tabi’in dan para imam-imam yang mengikuti jejak mereka. Suatu kejelekan bagi suatu umat yang mengadakan suatu amalan yang tidak pernah dicontohkan oleh para pendahulunya (salafussholih) dengan bangga melakukan amalan yang mengerah kepada suatu kebid’ahan.
Imam Asy Syatibi dalam berkata: “Suatu nash yang tidak dijadikan oleh para salafussholeh untuk menetapkan suatu amal, lalu datang generasi berikutnya menjadikannya sebagai dalil atas suatu amal maka amalnya tak diterima”.( Kitab Al-Adillah Asy Syar’iyyah min Al Muwaffaqaat)
Syaikh Abdul Qadir Al-Jaelani berkata: "Tidak ada keberuntungan kecuali sampai engkau mengikuti Al-Kitab (Al-Qur'an) dan As-Sunnah" (Fathur-Rabbani, hal.128)
Hasan Al-Bashri berkata: “Sesungguhnya Ahlus Sunnah Wal jamaah sejak dahulu adalah kelompok minoritas diantara manusia, demikian pula sampai saat ini mereka adalah minoritas. Mereka tidak mengikuti para tukang maksiat dalam kemaksiatan. Mereka tidak pula mengikuti para ahli bid’ah (pelaku bid’ah) dalam perbuatan bid’ah mereka. Mereka bersabar atas sunnah-sunnah mereka sampai mereka menghadap Rabb mereka. Demikianlah karena itu jadilah ahlus sunnah.”

Wahai Saudaraku, Apakah perkataan orang-orang yang ahli dalam ilmu agama tersebut masih belum meyakinkan?
Marilah kita mencoba merenungi dengan hati yang jernih, janganlah kita kedepankan hawa nafsu kita. Tentu dalam hati kita senantiasa banyak pertanyaan yang mengganjal diantaranya:
- Kenapa sejak dahulu, kakek kita, bapak kita, ustadz kita bahkan kyiai kita mengajarkannya dan bahkan sudah lumrah dimasyarakat ?
- Darimana mereka ( ustadz/kyiai kita ) mengambil dalilnya apa hanya budaya ?

AL-QUR’AN UNTUK ORANG HIDUP BUKAN UNTUK ORANG MATI

Allah Ta’ala berfirman:
         
”Inilah adalah kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapatkan pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran (QS.Shaad: 29)
Pada saat sekarang banyak kaum muslimin meninggalkan ajaran-ajaran Al-Qur’an, dan hanya dijadikan bacaan untuk orang-orang mati, dimana mereka membacakannya di kuburan dan ketika ta’ziyah, mereka ditimpa kehinaan dan perpecahan. Hal ini berbeda dengan para sahabat nabi dan orang-orang beriman yang mana mereka berlomba-lomba untuk mengamalkan perintah-perintah al-Quran dan meninggalkan larangan-larangannya. Apa yang diperhatinkan Rasulullah terdahulu, kembali menjadi kenyataan, sebagaimana dikisahkan al-Qur’an:
   •      
”Berkatalah Rasul, ”Ya Rabb, sesungguhnya kaumku menjadikan al-Qur’an ini sesuatu yang tidak diperdulikan.” (QS. Al-Furqon: 30)
Allah ta’ala menurunkan Al-Qur’an untuk orang-orang yang hidup agar mereka mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Jadi, al-Qur’an itu bukan untuk orang-orang mati. Mereka telah putus segala amalnya. Karena itu, pahala bacaan al-Qur’an yang disampaikan (dihadiahkan) kepada mereka-berdasarkan dalil dari al-qur’an dan hadits shahih-tidaklah sampai kepada mereka, kecuali dari anaknya sendiri. Sebab anak adalah bagian dari usaha ayahnya. Rasulullah bersabda: ” Jika manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: Shodaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendoakan kepadanya.” (HR. Muslim)
Allah Ta’ala berfirman:
      
”Dan bahwasanya seseorang tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya” (QS. An-Najm: 39)

Al-Hafidz Ibnu Katsir dalam menyebutkan tafsir ayat diatas mengatakan, ”Sebagaimana dosa orang lain tidak dipikul atasnya, demikian pula dia tidak mendapatkan pahala kecuali dari usahanya sendiri. Dari ayat yang mulia ini, Imam Syafi’i kemudian mengambil kesimpulan bahwa bacaan al-Qur’an tidak sampai pahalanya, jika dihadiahkan kepada orang mati. Sebab pahala itu tidak dari amal atau usaha mereka sendiri. Karena itulah Rasulullah tidak mengajarkan hal itu (menghadiahkan bacaan qur’an pada mayit) kepada umatnya, juga tidak menganjurkannya,dan tidak pula mengisyaratkan kepadanya, baik dengan dalil nash (al-Qur’an dan hadits shohih) atau sekedar isyarat. Yang demikian itu-menurut riwayat-juga tidak pernah dilakukan para sahabat. Seandainya hal itu merupakan suatu kebaikan, tentu mereka akan lebih dahulu mengamalkannya daripada kita. Perkara mendekatkan diri kepada Allah (ibadah) itu terbatas pada petunjuk dalil-dalil nash, dan tidak berdasarkan berbagai macam kias dan pendapat. Adapun do’a dan shodaqah, maka para ulama sepakat bahwa keduanya bisa sampai kepada orang-orang mati, disamping karena memang ada dalil yang membenarkannya.” (Tafsir Ibnu Katsir)
Wahai saudaraku, Dalam menilai sebuah kebenaran bukanlah disandarkan oleh banyak atau sedikitnya orang yang mengikuti, karena hal ini telah disindir oleh Alloh Ta’ala dalam QS. Al An'aam 116 : "Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk."
Marilah kita dalam beragama bersandarkan kepada dalil-dalil yang shahih karena dengan berdasar hujjah ( dalil ) yang kuat maka kita akan selamat. Kita tidak boleh beragama hanya mengikuti orang lain yang tidak mengetahui tentangnya karena di akhirat kelak kita akan dimintai pertanggung jawaban terhadap yang telah kita lakukan di dunia, perhatikan peringatan Alloh dalam QS. Al Israa' 36; "Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya."
Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik serta hidayah kepada kita sehingga mendapat ridho dari Allah Ta’ala atas amal-amal yang kita lakukan dan bukan sebaliknya, Amiin
Mudah-mudahan pembahasan ini bisa memberikan penerangan bagi semua yang menginginkan kebenaran di tengah gelapnya permasalahan. Wallahu 'a'lam.


(Maraji’: Al Qur’an dan terjemahan; Ringkasan dari Bulletin Al Ilmu Ma’had Salafy Jember; buku Al-Masa’il; serta dinukil dari sumber lain yang terpercaya lagi shahih)

0 komentar:

Posting Komentar